Studi Komparatif Ritual Pasca-Bencana Aceh dan Tohoku

Tidak terasa telah satu tahun sejak saya melakukan riset di Banda Aceh. Saya mengucapkan rasa terimakasih yang mendalam kepada masyarakat yang menyambut dengan hangat dalam setiap aktifitas riset yang saya lakukan di lapangan. Saya mulai menemukan banyak hal, bukan saja sesuatu perbedaan yang tajam namun juga menemukan banyak persamaan atas pertanyaan bagaimana sesungguhnya masyarakat bersikap dan merespon kejadian tsunami di Aceh, Indonesia (2004) dan Tohoku, Jepang (2011). Terlalu banyak hal yang mesti saya pahami dalam konteks lokal di Aceh termasuk sejarah konflik, budaya setempat, dan Islam. Saya sangat senang memiliki kesempatan untuk dapat berbagi atas apa yang saya temukan di lapangan sejauh ini. Yang jelas, artikel kali ini merupakan pengamatan personal, wawancara dan beberdasarkan studi literatur yang saya pelajari.

Saya telah melakukan investigasi lapangan dan mengamati berbagai cara pandang masyarakat serta bagaimana mereka memaknai bencana hingga peringatan tahunan kejadian bencana di Jepang. Riset saya bukan saja mencakup tentang bencana alam seperti bencana gempabumi besar Hanshin-Awaji (Kobe, 1995) dan gempabumi besar Timur Jepang (Tohoku, 2011) namun juga bencana alam yang masuk dalam kategori man-made disaster seperti bencana Bom Atom di Horoshima dan nagasaki (1945). Saya mempelajari bagaimana cara orang dalam memaknai dan merespon berbagai tragedi secara kolektif dari sudut pandang sosiologi agama. Pada sudut pandang ini, jika dilihat sekilas, pelaksanaan peringatan bencana di Aceh terlihat sangat berbeda dengan Jepang.

Terdapat hal yang kontras antara peringatan yang ada di Aceh dan di Jepang, sebagai contoh, peringatan bencana di Aceh, kelompok anak yatim mendapatkan perhatian khusus dengan memberikan mereka berbagai hadiah, dimana hal ini tidak terlihat pada peringatan bencana di Jepang. namun demikian perwakilan kelompok yang menjadi korban bencana tetap diberikan kesempatan untuk menyampaikan pidato di depan publik Jepang, selama kegiatan seremoni peringatan bencana. Selanjutnya, budaya makan dan minum seperti Kenduri biasanya sangat dihindari dalam peringatan bencana di Jepang. meskipun makanan dan minuman tidak diberikan kepada peserta yang hadir, namun mereka dibekali kalungan bunga dan juga botol yang berisi air sebagai penghormatan terhadap spirit korban, salah satunya direpresentasikan pula dalam bentuk obelisk putih yang diletakkan di tengah panggung (lihat gambar). Di antara perbedaan ini, yang paling menonjol adalah bagaimana merasakan kehadiran (dan ketidakhadiran) agama. Budaya Islam sedikit tidaknya, telah mengilhami dalam berbagai peringatan publik di Aceh, sementara itu ritual keagamaan tidak ada didalam peringatan bencana di Jepang. Keadaan di Jepang ini dipengaruhi oleh konteks politik setelah perang dunia II, menjadi hal yang lumrah jika tidak terlihat tokoh agama, dan kegiatan ritual. Kegiatan peringatan kejadian bencana seperti mengheningkan cipta atau ungkapan dengan bunga merupakan hal yang umum dalam peringatan bencana di Jepang. Di antara kesamaan dalam membadingkan bagaimana peringatan bencana di Aceh dan Jepang yaitu keduanya memaknai jika peringatan ini sebagai hari mengenang kejadian bencana itu sendiri serta para pimpinan politik menyampaikan pidato mereka.

Namun demikian, saya menemukan  pula hal yang tidak biasa dalam menarasikan bencana dari berbagai tempat yang terdampak tsunami. Dari sisi naratif saya menemukan bahwa selama peringatan dan juga dari berbagi kisah yang terdapat di dalam buku diantaranya adalah memaknai bencana sebagai adanya “tangan Tuhan” yang telah menetapkan terjadinya bencana tersebut. manusia memiliki kemampuan untuk dapat mengambil hikmah bahwa Allah menurunkan bencana bukan untuk hal yang sia-sia. Pemahaman bahwa Allah telah “menulis” memperlihatkan bahwa tsunami merupakan cobaan agar kita menjadi muslim yang lebih baik.

Sebaliknya, di Jepang, membicarakan makna dibalik sebuah penderitaan (sering diasumsikan sebagai “theodicies’ dalam sosiologi) merupakan hal yang dianggap tabu. masyarakat didorong untuk fokus pada apa yang sepatutnya mereka lakukan bagi para korban daripada mendiskusikan hal yang bersifat permukaan. namun bukan berarti pula tidak ada upaya untuk memberikan makna pada penderitaan. Kebanyakan para pembicara pada acara peringatan bencana tersebut, menyampaikan bagaimana membangun kembali kota dan jangan sampai terjadi tragedi yang sama. mereka berjanji melakukan perbaikan dan pencegahan sebagai semangat dalam mengenang para korban, jika pengorbanan mereka tidak akan sia-sia. Hal ini merupakan ungkapan yang bersifat tidak langsung (hal yang “tidak secara langsung” sebagai pernyataan bahwa penderitaan itu sendiri adalah “hadiah”) sehingga pertanyaan terkait dengan penderitaan dapat terjawab.

Bagi saya, menjadi sangat menarik menemukan perbedaan dan persamaan ini. Saya melihat pertanyaan dan pernyataan yang sama antara keduanya dalam mendefenisikan bencana yaitu bagaimana selayaknya kita bersikap. Hal ini berkaitan dengan pertanyaan bahwa meningkatnya rasa penderitaan setelah bencana yaitu berupa pertanyaan “mengapa hal ini terjadi dan menimpa saya?”. meskipun hal ini dapat dimaknai dalam theodicy Islam secara langsung pada satu sisi, namun hingga menjadi sesuatu yang tidak langsung pada sisi yang lain. Kedua sisi ini merupakan pendekatan yang disadari sebagai upaya untuk menyikapi pernyataan “mengapa?”; terlihat berbeda, terutama pada konteks sejarah-budaya yang melekat pada masing-masing masyarakat. Saya akan melanjutkan riset ini untuk dapat mengkonfirmasi hipotesa ini, apakah didukung dengan data-data yang empiris, dan tentu saja berharap dapat memberikan kontribusi untuk mendorong saling kepemahaman antara Aceh dan Tohoku  pada aspek-aspek yang berbeda dan dalam memaknai keduanya memaknai situasi yang sulit setelah bencana. (***)