Pengetahuan Yang Menyelamatkan

Jika kita melihat kembali berbagai kejadian bencana yang pernah terjadi, banyak korban yang berjatuhan disebabkan tidak tersedianya pengetahuan tentang bencana tersebut. Sebut saja kejadian tsunami yang melanda tahun 2004 silam. Perbedaan yang cukup signifikan tampak dari jumlah korban meninggal antara kota Banda Aceh dengan kabupaten Simeulue. Di Banda Aceh, jumlah korban meninggalnya sebanyak 61.065 jiwa, sedangkan di Simeulue yang justru sangat dekat dengan pusat gempa, jumlah korban yang meninggal hanya 7 jiwa. Hal ini disebabkan masyarakat Simeulue memiliki pengalaman serupa yang terjadi tahun 1907. Pada waktu itu masyarakat simeulue menamakan istilah ombak besar (tsunami) dengan sebutan Smong. Kedahsyatan Smong serta gejala-gejala alam yang mendahuluinya, kemudian diceritakan secara turun temurun dari generasi ke generasi dalam bentuk nafi-nafi (sastra lisan) pada waktu senggang atau menjelang tidur. Inilah yang membuat pengetahuan masyarakat Simeulue tentang Smong tetap lestari dan tersebarluas di masyarakat Simeulue hingga saat ini. Jadi tak heran ketika Tsunami tahun 2004 lalu, masyarakat Simeulue mampu merespon dengan mengevakuasi diri ke tempat yang lebih tinggi.

Kita juga tentunya masih ingat dengan bencana gempabumi Besar Jepang Timuratau Great East Japan Earthquake yang terjadi pada 11 maret 2011 lalu. gempa dengan skala 9 SR ini, tercatat sebagai gempabumi terbesarkedua di dunia dari segi magnitude-nya dan juga merupakan gempabumi terbesar yang melanda Jepang sejak 1900. Bahkan bencana ini juga dinyatakan sebagai megadisasters, yaitu bencana terburuk yang pernah terjadi di dunia, karena melibatkan tiga bencana dalam sekali waktu: gempa bumi, gelombang tsunami yang mencapai ketinggian sepuluh meter, serta krisis reaktor nuklir Fukushima.

 

Dari peristiwa maha dahsyat itu, terdapat pembelajaran menarik yang terjadi di Kamaishi, salah satu kota yang terkena dampak. Pada saat itu dilaporkan bahwa seluruh siswa SD dan SmP yang saat itu berada di sekolah masingmasing, berhasil  menyelamatkan diri mereka. Para siswa  SmP juga turut  membantu siswa SD di sekitarnya untuk  mengevakuasi diri ke tempat yang  aman. Dari total  2.924 orang siswa  SD dan SmP di Kamaishi, hanya  lima orang yang  menjadi  korban.  Empat orang di antaranya adalah mereka yang tidak masuk sekolah atau mereka yang meninggalkan sekolah lebih dulu, dan satu orang lainnya diketahui hilang tersapu tsunami setelah pulang berkumpul bersama keluarganya. Kejadian ini kemudian dikenal dengan “Kamaishi Miracle” yang dikaitkan dengan pendidikan kebencanaan yang kuat melalui latihan menghadapi bencana yang ikuti para siswa di sekolahnya sejak tahun 2005, termasuk pengetahuan lokal “tendenko” yang berarti menyelamatkan diri sendiri ke tempat yang lebih tinggi tanpa mencari kerabat atau teman-teman. DATA  INFORMASI

 

Kedua pembelajaran di atas, baik Smong di Simeulue maupun “Kamaishi Miracle” menggambarkan bagaimana pengetahuan memiliki peran yang penting dalam menyelamatkan nyawa saat bencana. Tapi apakah cukup hanya sekedar memiliki pengetahuan saja? Smong misalnya, diceritakan pada waktu senggang atau menjelang tidur secara turun temurun dari generasi ke generasi. Begitupun halnya di Kota Kamaishi, pengetahuan yang diperoleh siswa dari pendidikan bencana diikuti dengan latihan (drill) yang dilaksanakan  secara reguler sehingga pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk menyelamatkan diri.

 

Pengetahuan itu sendiri terbagi dua, yaitu pengetahuan tasit (tacit knowledge) dan pengetahuan eksplisit (explicit knowledge). Pengetahuan tasit ini merupakan pengetahuan terpendam atau masih tersimpan dalam pikiran manusia sehingga sulit untuk dikomunikasikan atau disebarkan kepada orang lain. Sedangkan pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang terungkap, yang terekspresikan secara jelas, melalui kata-kata, teks, maupun gambar,  sehingga dapat dengan mudah ditangkap,  didokumentasikan dan disebarluaskan. Transformasi pengetahuan eksplisit menjadi pengetahuan tasit dan sebaliknya merupakan proses yang sangat penting bagi penciptaan dan penyebarluasan pengetahuan itu sendiri.

 

Sebuah gagasan tentang Tangga Pengetahuan (Knowledge Ladder) diperkenalkan oleh north dan Kumta (2014). Tangga Pengetahuan ini menggambarkan bagaimana pengetahuan eksplisit berupa know-what kemudian diinternalisasi menjadi pengetahuan tasit know-how. Jika pada mulanya seseorang hanya mengetahui makna dan konteks tentang sesuatu hal, maka dengan mengaplikasikan/ mempraktekkan pengetahuan tersebut, dapat memberikan motivasi untuk melakukan tindakan. Kesuksesan dari Tangga Pengetahuan adalah ketika seseorang dapat bertindak dengan pilihan yang tepat.   Dalam konteks kebencanaan, keberhasilan tangga pengetahuan ini ada pada hubungan antara manajemen pengetahuan dengan ketahanan bencana. Dimana, dengan pengetahuan yang dimiliki dapat memotivasi seseorang dalam mengambil tindakan yang tepat untuk menyelamatkan nyawa, seperti apa yang telah dilakukan oleh masyarakat Simeulue dan para siswa di Kamaishi. Untuk itu, sudah seyogyanya, upaya pendidikan kebencanaan yang dilakukan, dibarengi dengan latihan, simulasi/ drill, sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat diaplikasikan. Tentunya simulasi ini harus dilakukan secara berkesinambungan supaya pengetahuan tersebut benar-benar tertanam di alam bawah sadar, sehingga ketika bencana terjadi, seseorang akan merespon  secara tepat untuk menyelamatkan diri. (***)