Patahan Seulimuem dan Potensi Bencana Gempa Bumi Aceh Besar

Sejarah gempa menunjukkan bahwa Patahan Seulimeum pernah menghasilkan gempa bumi dengan skala antara 7.1 sampai 7.3 pada tahun 1936. meskipun saat itu penentuan lokasi gempa masih belum cukup akurat karena kurangnya data namun melihat tingkat kerusakan yang lebih parah di daerah Krueng Raya, para peneliti berkesimpulan bahwa gempa tersebut diakibatkan oleh aktivitas Patahan Seulimeum. Data aktivitas gempa terkini (tahun 2005-2016) juga menunjukkan adanya gempa-gempa kecil di sepanjang Patahan Seulimeum. gempa-gempa kecil tersebut tergolong sedikit frekuensinya dibandingkan dengan daerah Tangse tempat pertemuan Patahan Seulimeum dengan Patahan Sumatera. Kurang aktifnya Patahan Seulimeum saat ini (dibandingkan patahan lainnya) bisa jadi sebuah indikasi bahwa Patahan tersebut telah lama tidak mengeluarkan energi. Jika energi tidak dikeluarkan dan terakumulasi secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama maka suatu saat patahan tersebut dapat mengeluarkan energi dalam bentuk gempa dengan kekuatan yang besar.

 

Morfologi Patahan Seulimeum

 Patahan Seulimeum merupakan salah  satu patahan sekunder yang ada di Aceh Besar.  Yang dimaksud dengan patahan sekunder di sini adalah patahan yang terletak di luar dari Patahan Sumatera tetapi umumnya berhubungan dengan Patahan Sumatera. Beberapa patahan sekunder yang saat ini terdeteksi aktif antara lain adalah Patahan Batee (membentang dari Aceh Selatan sampai perbatasan utara Aceh Barat), Patahan Peusangan (dari Aceh Tengah sampai ke laut bagian utara Bireuen), nisam Antara (timur laut gunung geureudong), dan Patahan Seulimeum (Tangse hingga perairan Sabang). Semua patahan sekunder tersebut menghasilkan gempa dengan magnitude dan frekuensi yang berbeda-beda.

Kehadiran Patahan Seulimeum erat kaitannya dengan keberadaan gunung Seulawah. Peta topografi menunjukkan bentuk yang jelas dari Patahan Seulimeum yang terletak  di sebelah barat gunung Seulawah (lihat gambar  1). Patahan Seulimeum kemungkinan besar hadir untuk mengakomodir komponen stress yang sejajar dengan arah pergerakan lempeng Indo-Australia di bagian selatan Sumatera. Hasil kajian seismik di wilayah Perairan Sabang serta data gempa menunjukkan bahwa kedalaman Patahan Seulimeum dapat mencapai 15 km. Patahan Seulimeum merupakan sesar geser menganan (right lateral strike slip) serupa  dengan Patahan Sumatera.

Pelajaran dari Gempa Aceh Tengah dan Kumamoto Jepang

Selama ini masyarakat cenderung tertarik dengan gempa besar yang sudah terjadi apalagi jika sampai mengakibatkan korban jiwa. Padahal gempa besar berikutnya sering terjadi pada patahan lain yang saat ini relatif “diam“. gempa-gempa kecil yang terjadi di sepanjang Patahan Seulimeum misalnya mengindikasikan kemungkinan gempa besar dapat terjadi di masa mendatang. gempa Aceh Tengah pada 2 Juli 2013 dan gempa Kumamoto Jepang pada 16 April 2016 adalah contoh gempa yang tidak diperkirakan karena kedua patahan tersebut relatif “sepi“ sebelumnya. gempa Kumamoto dengan skala mw 7.0 mengakibatkan setidaknya 50 orang meninggal, ratusan cedera parah, dan ribuan rumah hancur. Sebelum terjadi gempa bumi 2016, data International Seismological Centre menunjukkan adanya beberapa gempa kecil di Kumamoto. orang lupa bahwa Kumamoto sebenarnya pernah dihantam gempa darat yang kuat dengan tingkat kerusakan yang tinggi pada tahun 1889. gempa Kumamoto tersebut juga memicu terjadinya tanah longsor. Dalam pantauan langsung penulis di Kumamoto, rumah yang mengalami kerusakan parah umumnya rumah tua berkualitas rendah yang dibangun di daerah dengan kecuraman tinggi.

Serupa dengan Kumamoto, sebelum terjadinya gempa Aceh Tengah 2 Juli 2013,  patahan di daerah Aceh Tengah tersebut  tergolong sepi dari aktivitas gempa. meskipun demikian, International Seismological Centre mencatat beberapa gempa kecil sebelum tahun 2013 di Wilayah Aceh Tengah yang menunjukkan potensi gempa besar. gempa Aceh Tengah tersebut diikuti oleh tanah longsor yang merenggut 43 korban jiwa dan ratusan rumah hancur.

Pelajaran yang dapat diambil dari gempa bumi di Kumamoto dan Aceh Tengah adalah bahwa patahan-patahan aktif yang terkesan diam, suatu saat dapat mengeluarkan energi besar. Patahan Seulimeum terkesan “diam“ karena sangat jarang mengeluarkan energi besar. Sejarah gempa menunjukkan bahwa Patahan Seulimeum berpotensi mengakibatkan bencana gempa bumi di masa mendatang. mengingat patahan Seulimeum cukup dekat dengan lokasi penduduk maka gempa bumi dengan magnitude mw 7.3 (sesuai sejarah gempa) di patahan tersebut dapat mengakibatkan kerusakan yang sangat parah. gempa yang terjadi di daerah pegunungan juga dapat mengakibatkan tanah longsor sehingga dapat menambah resiko bencana yang lebih besar. Umumnya masyarakat Aceh membangun rumah dengan kualitas yang sangat baik sehingga relatif tahan terhadap gempa. namun demikian, bangunan yang berada di wilayah patahan aktif perlu lebih diantisipasi dengan perlakuan yang lebih khusus. Selanjutnya masyarakat perlu dihimbau dengan memperkuat pemahaman dan pengetahuan mereka yaitu berusaha untuk menghidari pembangunan rumah di wilayah dengan tingkat kecuraman yang tinggi untuk menghindari potensi longsor yang dipicu oleh gempa bumi. (***)