Mendidik Dokter Agar Memahami Bencana

Indonesia merupakan gugusan pulau yang sangat rentan terhadap bencana, mengancam ratusan juta jiwa yang menghuninya.  namun, apakah para dokter yang bertugas di negeri ini memahami apa yang mesti dilakukan untuk mencegah dan menghadapi bencana?  Pertanyaan ini memicu para pendidik dokter masa depan untuk mereorientasi dunia pendidikan kedokteran Indonesia, khususnya di Aceh.   

Pengetahuan tentang kebencanaan di kalangan medis sebelum tsunami 2004 berangkat dari kesiapsiagaan dalam menghadapi kegawatdaruratan massal (mass casualty incidence) dan bencana wabah atau epidemi penyakit menular.  Dokter dididik agar mampu menangani kecelakaan massal dan pengendalian penyakit.  Setelah tsunami 2004 para pendidik di dunia kedokteran menyadari  bahwa kemampuan tersebut tidaklah cukup.  Perlu memasukkan topik penanggulangan bencana secara menyeluruh (bukan hanya tahap emergency saja), yaoitu dari pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, respon cepat pada emergency hingga rekonstruksi dan rehabilitasi pasca bencana.  Intinya, dokter harus memahami perannya dalam setiap fase dalam siklus penanggulangan bencana, sama seperti bagian masyarakat siaga bencana lainnya.  Dengan kemampuan tersebut diharapkan para dokter akan mampu berkerja sama dengan baik dengan masyarakat dalam menanggulangi berbagai jenis bencana baik bencana alam maupun wabah penyakit dan konflik di masyarakat.

Terinspirasi dari berbagai aksi dokter dalam penanggulangan bencana tsunami 2004, beberapa fakultas kedokteran di Indonesia memutuskan untuk menyusun kurikulum khusus dalam sebuah mata kuliah khusus.  Secara tidak langsung, tsunami 2004 menjadi titik tolak perubahan kurikulum secara masif di Indonesia.  Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala sejak tahun 2006 telah mengembangkan kurikulum pendidikan dokter yang mencakup sebuah blok/mata kuliah khusus yang dinamai blok disaster management.  Blok ini disusun untuk menyiapkan dokter masa depan yang memahami perannya dalam penanggulangan bencana.

Ada berbagai keterampilan yang diajarkan pada blok disaster managementini.  Calon dokter dilatih untuk mampu menyusun peta bahaya (hazard map) di daerah praktiknya nanti, sehingga mampu menentukan halhal apa saja yang berpotensi menimbulkan  bencana,  baik struktur geografis maupun kebiasaan masyarakat.  Bukan hanya membuat hazard map, mahasiswa kedokteran juga dilatih untuk bekerjasama dengan masyarakat dalam mengurangi dampak bencana, termasuk meningkatkan ketahanan masyarakat dalam bidang kesehatan. FK Unsyiah juga mendidik agar lulusannya nanti mampu merespon situasi emergency dengan mengadakan simulasi bencana lengkap yang diadakan setiap tahun, melibatkan perwakilan dari seluruh stakeholders bidang kesehatan di Aceh.  Simulasi tahunan ini memberi bekal calon dokter untuk mampu melakukan pemberian pertolongan pertama (Basic life support/ BLS), termasuk triage (memilah dan memprioritaskan pasien yang lebih dahulu mendapat perawatan).  Selain itu mahasiswa juga harus cekatan dalam hal memobilisasi pasien ke lokasi yang lebih aman, pemberian pertolongan lanjutan (advance trauma and life-saving/ATLS), memahami rantai komando dalam penanggulangan awal bencana (Incident Command System /ICS) dan kerja sama dengan komponen masyarakat lainnya, termasuk pihak militer, kepolisian, SAR, Pemadam Kebakaran, Palang merah Indonesia, dan pemerintah kota (termasuk dinas kesehatan dan pusat krisis kesehatan) serta pemerintah provinsi.  mahasiswa kedokteran juga dilatih cara mengindentifikasi korban massal pada kejadian bencana (Disaster Victim Identification/ DVI) sehingga kejadian ‘hilangnya identitas’ pada jenazah tsunami 2004 tidak terulang kembali.

Adanya blok disaster management ini ternyata memberikan efek positif yang lebih jauh lagi.  Sebagian dari mahasiswa dan dosen tertantang untuk menggali lebih jauh tentang ilmu kebencanaan di bidang kedokteran.  Ada yang meneliti lebih jauh tentang struktur tulang belulang manusia yang hidup di Aceh sehingga jika di masa depan ada jenazah yang sudah tinggal belulang maka masih mungkin diidentifikasi jenis kelamin dan umurnya.  Ada yang meneliti kesiapsiagaan masyarakat di area vulkanik misalkan Kabupaten Bener meriah dan Aceh Besar.  Ada pula yang meneliti hubungan antara kualitas air di kawasan terimbas tsunami dan gangguan kesehatan yang menyertainya.  Hal ini patut disambut gembira karena ternyata adanya perubahan kurikulum pendidikan kedokteran selaras dengan aktivitas meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap bencana yang diserukan oleh pemerintah Aceh dan juga pada tingkat pemerintah pusat.

Tentu saja ada harapan besar untuk lebih menggiatkan pendidikan kebencanaan di bidang kesehatan.  Perubahan kurikulum kedokteran di masa depan diharapkan dapat menempatkan pendidikan kebencanaan secara longitudinal, sepanjang pendidikan berlangsung, tak hanya segmental terfokus di blok disaster managementsaja.  Selain itu pendidikan kedokteran diharapkan harus mampu mendekatkan dokter dengan masyarakat, meniadakan hirarki dan kesenjangan yang selama ini terjadi.  Kemampuan membangun komunikasi efektif dan berempati yang lebih baik akan membuat hubungan dokter dan masyarakat lebih harmonis, sehingga kerjasama di antara dokter dan masyarakat, baik yang sehat maupun yang sakit, akan membuahkan keselarasan dalam pemeliharaan kesehatan.  Konsep community-based medical education (CBmE) yang telah lama diserukan oleh World Health organization belum diimplementasikan secara optimal, padahal CBmE sangatlah sesuai jika diterapkan di Indonesia, khususnya Aceh, menggantikan konsep hospital- based peninggalan penjajah Belanda.  Konsep CBmE telah berhasil diterapkan di berbagai negara berkembang, misalkan Cuba, sehingga status kesehatan negara tersebut menyamai United Kingdom (UK) walaupun pendapatan perkapitanya hanya 1/7 dari UK.

Para pendidik di dunia kedokteran ditantang untuk berfikir maju, tak hanya menduplikasi model pendidikan luar negeri (baca: Western oriented medicine), tapi juga mampu mengadaptasi kearifan lokal yang terdapat di dalam masyarakat tempat mereka bertugas.  Kemampuan menghargai nilai-nilai unggul di masyarakat kita sendiri, termasuk dalam menyikapi bencana, merupakan salah satu bekal penting bagi dokter masa depan.  Semoga pendidikan dokter di Indonesia, khususnya di Aceh, mampu menempatkan kemampuan menanggulangi bencana sebagai keunggulannya di atas fakultas-kedokteran lain di Indonesia, bahkan di dunia (***).