Masyarakat Tangguh Bencana Melalui Pengetahuan Lokal

Upaya-upaya yang dilakukan dalam mewujudkan masyarakat tangguh bencana memasuki tren baru dengan semakin terintegrasinya dan lebih komprehensif pendekatan yang dilakukan. Kesadaran ini muncul sebagai upaya yang lebih sistimatis dalam memandang bencana sebagai bagian yang tidak dapat dihindari apalagi ditahan dengan segenap upaya struktural. Telah banyak penelitian yang memperlihatkan jika bencana alam memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari kemampuan manusia untuk menahannya. Salah satu kata kunci yang dinilai efektif dalam menghadapi kemungkinan bencana di masa yang akan datang adalah adaptasi. Kemampuan beradaptasi dalam hal ini adalah kemampuan untuk dapat siap serta pulih dengan capaian yang lebih baik (build back better) saat bencana datang.  Kemampuan adaptasi ini direpresentasikan dalam istilah masyarakat tangguh bencana.

Tren baru saat ini dalam bidang kebencanaan adalah mendorong setiap peneliti untuk dapat menarik benang merah hasil penelitian mereka, memberikan kontribusi nyata pada upaya-upaya pengurangan risiko bencana. Salah satunya yang terpenting itu adalah dengan menggali dan mengembangkan kembali pengetahuan lokal yang ada di tengah masyarakat itu sendiri. Pada dasarnya masyarakat kita memiliki serangkaian kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang tidak menguntungkan yang terbentuk dari kurun waktu tertentu. Kemampuan masyarakat membentuk pengetahuan ini terakumulasi dalam beberbagai saluran diantaranya nyayian, syair, tarian, ritual dan lain sebagainya. namun saluran yang digunakan cendrung tidak berkelanjutan karena tersimpan dalam budaya tutur yang bersifat intangible dan berpotensi untuk punah karena tidak terdokumentasi dengan baik.

Belajar dari masyarakat Jepang, mereka memiliki sejumlah pengetahuan lokal yang bersenyawa dengan tuanya budaya dan pengetahuan mereka. Khasnya masyarakat Jepang, mereka mampu mendokumentasikan setiap peristiwa penting di masa lampau termasuk kejadian bencana dengan baik dan menjadikannya sebagai bahan pembelajaran dalam mengembangkan dan mempersiapkan pengetahuan untuk menghadapi kemungkinan bencana selanjutnya. Sebagai contoh adalah sebagaian syair Kudoki yang dinyayikan pada  Bondori yaitu salah satu festival terbesar  masyarakat Jepang di musim panas. Bondori adalah event bagi masyarakat Jepang untuk berkumpul bersama-sama keluarga dan komunitasnya untuk memperingati leluhur mereka. Salah satu kegiatannya adalah festival menari tersebut adalah mendendangkan lirik-lirik Kudoki.

Salah satu lirik Kudoki yang menyimpan pengetahuan tsunami adalah Kudoki dari daerah nankai yang liriknya bercerita tentang peristiwa gempabumi dan tsunami Tonankai dan nankai yang terjadi pada tahun 1834. Lirik Kudoki ini berisi pengetahuan tentang beberapa fenomena tsunami yaitu gempabumi, air laut surut dan naiknya air laut  ke daratan dan meluluhlantakkan semua yang dilaluinya. Lirik Kudoki juga menceritakan apa yang harus dilakukan jika melihat fenomena alam tersebut dengan segera menyelamatkan diri dengan menjauhi pantai, serta mencari tempat yang lebih aman dan tinggi. menariknya, pada akhir lirik kudoki ini, terdapat pesan yang diulang hingga tiga kali yaitu “tsu-taen” yang berarti sebarkan pengetahuan ini kepada generasi selanjutnya. Disinilah terlihat  pentingnya memastikan jika pengetahuan  harus dipastikan berkelanjutan untuk generasi  berikutnya. Inspirasi dari lirik Kudoki ini memiliki kisah yang sama dengan khasanah pengetahuan lokal masyarakat Simeulue dengan kisah dan lirik nandong yang bercerita  tentang smong yang juga berarti tsunami dalam bahasa lokal masyarakat Simeulue. Kisah Smong menggambarkan fenomena  tsunami dan juga menyimpan pengetahuan  bagaimana selayaknya bersikap saat bencana terjadi. Pengetahuan lokal Smong ini berhasil  menyelamatkan masyarakat Simeulue dari bencana tsunami 2004 yang lalu dan telah  mendapat perhatian yang besar untuk dapat  dipelajari lebih lanjut.

Pengetahuan yang tersimpan di dalam masyarakat adalah potensi yang besar untuk kemudian berinteraksi dengan pengetahuan dan pendekatan modern. meskipun pendidikan kebencanaan sudah semakin dirasa penting dalam sistem pendidikan, kita masih memiliki tantangan untuk tidak hanya puas sampai pada tahapan sekedar tahu apa (know what) dan tahu bangaimana (know how) terhadap risiko bencana disekeliling kita. Jauh lebih penting adalah apakah pengetahuan itu dapat melahirkan sikap yang menggerakkan kepada aksi dan keputusan yang tepat saat bencana terjadi dan memastikan pula bahwa kita akan dapat segera pulih dengan capaian yang lebih baik.

 

Manajemen Pengetahuan Lokal

Manajemen Pengetahuan (Knowledge  Management) menjadi mendesak untuk memastikan jika pengetahuan yang ada di dalam masyarakat dapat langgeng untuk mewujudkan masyarakat tangguh bencana. Pengetahuan yang terdapat di dalam masyarakat sebagai sebuah khasanah yang disadari akan menjadi bagian yang perlu pengaturan dan manajemen pengetahuan yang sistematis. Saluran pengetahuan yang digunakan selama ini cendrung menggunakan salural oral, perlu didokumentasikan dengan produk-produk yang lebih inovatif. Setidaknya ada beberapa hal yang menjadi ruang lingkup yang perlu diperhatikan dalam melakukan dan menjaga pengetahuan lokal yang berkaitan dengan bencana ini agar terpastikan memberikan kontribusi dalam mewujudkan masyarakat tangguh bencana diantaranya adalah:

1) menggali potensi pengetahuan lokal  yang dapat digunakan untuk mendeteksi, mengenal dan menginterpretasikan ancaman bencana yang ada di lingkungannya;

2) pengetahuan lokal yang ada tersebut dikomunikasikan dengan cara yang tepat kepada masyarakat;

3) pengintegrasian seluruh informasi, pengetahuan ke dalam struktur masyarakat yang dapat disimpan dalam bentuk budaya, program yang berkesinambungan dan terintegrasi dengan semua struktur masyarakat.

Elaborasi pengetahuan lokal ini memerlukan serangkaian tindakan dalam mengatur potensi pengetahuan tersebut dapat bersenyawa pula dengan setiap perubahan, sehingga masyarakat tidak menjadi gagap dalam mengambil dan melakukan tindakaan saat bencana terjadi. Kegiatan manajemen pengetahuan lokal dalam hal ini juga termasuk memberikan kesempatan inovasi dan adaptasi seluas-luasnya agar potensi pengetahuan lokal dapat berinteraksi dengan pendekatan yang lebih terkini, perubahan waktu termasuk diantaranya membuka diri dengan dunia luar.