Belajar Tsunami dari Kawasan Indrapurwa di Aceh Besar

Lebih dari setengah garis pantai di Provinsi Aceh terdampak oleh tsunami yang terjadi pada tahun 2004 lalu. Beberapa lokasi bahkan memperlihatkan kemunduran garis pantai yang cukup masif akibat energi gelombang tsunami. Salah satu wilayah yang terdampak parah adalah kawasan pantai yang berada di sebelah timur Kecamatan Peukan Bada di Kabupaten Aceh Besar (Lihat gambar).  Kawasan pantai ini melingkupi beberapa gampong seperti Lamteh, Lambadeuk, Lampageu, hingga ke titik yang dikenal sebagai Ujong Pancu.  

Kawasan ini sejak Abad ke-9 telah dikenal sebagai kawasan bermukimnya penduduk yang beragama Hindu yang pada saat itu lebih dikenal sebagai Indrapurwa. Indrapurwa merupakan satu dari tiga entitas Hindu yang hadir di masa yang hampir bersamaan di Aceh pada saat itu. Dua yang lainnya adalah Indrapatra yang berada di sekitar Kawasan Lamteh, di sebelah Timur dari Banda Aceh, dan Indrapuri yang berada di sekitar 40 Km ke arah selatan Banda Aceh. Indrapurwa dan Lamteh merupakan dua kawasan pantai yang diduga berkali-kali terdampak oleh tsunami yang terjadi jauh sebelum tahun 2004. Akibat tsunami tersebut, pantai ini mundur hingga hampir ratusan meter dari garis pantai aslinya.

Proses angkutan sedimen yang terjadi lebih dari satu dekade membentuk garis pantai baru yang mengikuti bentuk asalnya sebelum tahun 2004 meskipun tidak pulih sepenuhnya.

Untuk mewakili nama kawasan ini, selanjutnya kawasan ini disebut sebagai Kawasan Indrapurwa yang mencakup beberapa Gampong sebagaimana disebutkan sebelumnya. Belum ada studi yang komprehensif bagaimana kampung-kampung di Kawasan Indrapurwa ini terdampak oleh tsunami di masa lalu. Para peneliti di TDmRC (UPT mitigasi Bencana) Universitas Syiah Kuala, sejak tahun 2014 lalu memulai upaya memahami karakter fisik kawasan pantai ini, termasuk mengetahui bagaimana tsunami dapat merubah rupa pantai kawasan ini dan mencoba merekonstruksi proses pemulihan pantai yang terjadi satu dekade setelah itu. Harapannya, dengan melihat kedua aspek tersebut, kita akan mampu memahami bagaimana proses tsunami yang terjadi di masa lalu dan proses pemulihan pantainya. Bukan tidak mungkin, proses yang secara umum sama telah terjadi berulang  kali di lokasi ini, namun selama ini kita masih sepenuhnya mengerti. melalui proses penyelidikan ini diharapkan juga kita akan memahami bahwa mitigasi tsunami melalui penataan kawasan pantai harus dilakukan secara berkelanjutan. Para peneliti TDmRC didukung oleh Partnership Enhanced Engagement in Research (PEER) Cycle 3 dari USAID memulai penelitian dengan memodelkan proses erosi pantai yang terjadi akibat tsunami 2004. Sejumlah data terkait wilayah ini sebelum tsunami dikumpulkan dari berbagai sumber. model yang dibangun oleh para peneliti ini berhasil menirukan bentuk garis pantai dan kedalaman pantai akibat tsunami tersebut. Akibat tsunami tersebut, endapan sedimen diperkirakan banyak tertumpuk di batas bukit yang melingkari kawasan ini dan di wilayah laut di utara dari Pulau Tuan (lebih kurang 2,5 km dari garis pantai asli.

Dalam 10 tahun proses pemulihan pantai di kawasan ini, proses alami yang terjadi yang disebabkan oleh gelombang dan arus, membawa sedimen yang berasal dari sekitar kawasan ini membentuk garis  pantai baru. meskipun garis pantai baru yang terbentuk setelahnya tidak sepenuhnya kembali ke posisi semula, ternyata bangunan fisik khusus untuk garis pantai seperti tanggul laut (sea-wall) tidak diperlukan. Ini bertolak belakang dengan beberapa garis pantai lainnya setelah tsunami yang harus dibangun tanggul laut seperti di Gampong Pandee dan Gampong Jawa di Kota Banda Aceh.

Dari sisi penggunaan lahan, kawasan pemukiman telah pulih kembali seperti sebelum tsunami. namun, tidak demikian halnya dengan jenis penggunaan lahan yang berhubungan langsung dengan kualitas ekologis, seperti untuk tambak, sawah, dan hutan bakau. Ketiga jenis penggunaan lahan tersebut tidak menunjukkan pemulihan yang menggembirakan. Sebagai contoh, hingga saat ini, kawasan hutan bakau yang berhasil dipulihkan tidak sampai 50% dari sebelum tsunami 2004. Demikian pula halnya dengan luasan  sawah dan tambak.

Terdapat beberapa hal turut berperan pada lambatnya pemulihan penggunaan lahan tersebut. Salah satunya adalah belum pulihnya daya dukung ekologis kawasan pantai ini meskipun telah lebih dari satu dekade tsunami. meskipun bukan satu-satunya penyebab, namun perhatian dari aspek ekologis terhadap pemulihan kawasan ini perlu mendapat porsi yang memadai.

Kawasan Indrapurwa ini selayaknya mendapat perhatian mengingat kawasan ini juga menyimpan catatan sejarah yang cukup panjang yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi saat ini dan generasi yang akan datang. Dari aspek keilmuwan tsunami, Kawasan Indrapurwa ini sebenarnya merupakan taman ilmu yang berharga.

Tsunami merupakan ancaman yang memiliki frekuensi rendah namun berdampak besar. Ia tidak terjadi se-sering bencana lain seperti bencana banjir. namun, dampak buruk yang ditimbulkan oleh tsunami dapat beratus kali lebih dahsyat dibandingkan bencana lain. oleh karena itu, rehabilitasi yang berkelanjutan di kawasan pantai setelah bencana tsunami perlu dilakukan dengan cara-cara yang tepat, berbasis mitigasi, dan berwawasan ekologis.