Antara Mengopi dan Smong

Fenomena warung kopi memang tidak asing lagi bagi masyarakat Aceh. Warung-warung kopi ini tumbuh subur bagaikan cendawan selepas hujan reda. Hal ini muncul pasca-musibah bencana  tsunami 2004 yang hampir memasuki tahun ke-12. masyarakat Aceh mengopi dengan berbagai tujuan, bukan hanya untuk membasuh tenggorokan guna menghilangkan dahaga, tetapi mengopi juga urusan dunia dan akhirat. Kegiatan mengopi telah lama dilakoni masyarakat Aceh, dan semaik populer setelah peristiwa dahsyat tsunami yang merupakan ujian dan cobaan dari Allah bagi masyarakat Aceh.

Aroma dan kenikmatan kopi yang dihidangkan mampu mencapai cita rasa para pengopi yang mulutnya senantiasa terasa payau jika tidak meminumnya. Kopi juga telah sukses melahirkan damai bagi masyarakat dari berbagai keperluan dan hajat ketika dahaga datang. Kebiasaan mengopi seperti ini sepatutnya seiring dengan kesiapsiagaan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana. Pengalaman menghadapi tsunami pada tahun 1907 telah menjadi budaya masyarakat Simeulue, yang mereka sebut dengan smong. Smong dapat berarti naiknya air laut setelah gempa. masyarakat Simeulue menyampaikan tradisi syair-syair yang berisi smong melalui nandong yang dalam bait-baitnya berbunyi:

Enggel mon sao surito (Dengarlah suatu kisah)

Inang maso semonan (Pada jaman dahuku kala)

Manoknop sao fano (Tenggelamlah suatu desa)

Uwilah da sesewan (Begitulah dituturkan)

 

Anga linon ne mali (Jika gempanya kuat)

Dek suruik sahuti (Disusur air laut yang surut)

Maheya mihawali (Segeralah cari)

Fano me singatenggi (Tempat yang tinggi)

 

Unen ne alek linon (Diawali gempa yang kuat)

Fesangbakat ne mali (Disusuli ombak raksasa)

Manoknop sao hampong (Tenggelamlah seluruh negeri)

Tibo-tibo mawi (Secara tiba tiba)

 

Ede smong kahanne (Itulah Smong namanya)

Turiang da nenekta (Sejarah nenek moyang kita)

Miredem teher ere (Ingatlah ini semua)

Pesan dan navi da (Pesan dan nasihatnya)

 

Smong dumek-dumekmo (Smong adalah air mandimu)

Linon uwak-uwakmo (gempa adalah ayunanmu)

Elaik keundang-keundangmo (Petir adalah kendang-kendangmu)

Kilek sulu-sulumo (Halilintar adalah lampulampumu).

 

 

Mengopi semestinya mengikuti cita rasa masing-masing seperti kopi hitam, kopi luak, kopi dingin dan lainnya. mengopi juga mengikut masa-masa yang diatur masing-masing seperti setelah salat subuh, sarapan pagi, makan siang, minum waktu sore, mengopi waktu malam dan waktu-waktu lain yang diinginkan. Semestinya pengopi yang mengopi menyadari jika keadaan ini dapat diteruskan pada upaya-upaya mitigasi bencana. naskah Takbir gempa ditulis awal tahun 1833 merupakan naskah kuno Aceh yang di dalamnya menyatakan, “Jika gempa pada bulan Rajab, pada waktu subuh, berarti segala isi negeri bersusah hati dengan kekurangan makanan. Jika pada waktu duha gempa terjadi, alamatnya air laut keras akan datang ke dalam negeri itu…”. Ie-beuna adalah ungkapan untuk tsunami namun terlupakan. Kebiasaan ini umpama mengopi di Starbucks atau di Tanamera atau di Chronicle dan yang lainnya. Tetapi di Aceh kopi lokal seperti Solong Coffee 1974, Solong Coffee Premium, Dhapu Kupi 2008, Zakir Kupi, Kubra Kupi Beurawe, Tower Coffee dan lainnya menjadi tempat yang ramai dikunjungi oleh masyarakat setempat.

Keterlibatan masyarakat adalah satu proses yang penting untuk dapat bekerjasama secara kolektif berdasarkan lokasi geografi, kepentingan masyarakat lokal, elaborasi identitas lokal dalam menangani berbagai isu yang memengaruhi kesejahteraan penduduk setempat. Hubungan antara masyarakat akan dapat menggerakkan seluruh komponen masyarakat dalam membuat keputusan bersama. Keterlibatan penduduk setempat adalah upaya untuk mencapai berbagai tujuan dengan berpedoman pada situasi atau konteks keadaan sebagai berikut: memberikan pemahaman dan mendidik masyarakat tentang pentingnya keputusan atau proses; sepakat membuat keputusan bersama; membina hubungan dengan berbagai kelompok yang ada; saling berbagai ilmu dan pengalaman serta pertukaran berbagai kebijakan dengan kelompok masyarakat lainnya. Kekurangan keterlibatan masyarakat telah mengakibatkan kegagalan dalam memenuhi tujuan kemanusiaan, peningkatan capaian dari sumber-sumber luar dan ketidakpuasan terhadap prestasi dalam melaksanakan program.

Pakar bencana belum dapat memprediksi dengan tepat kapan akan terjadinya suatu bencana. Beberapa dekade yang lalu, para pakar dalam bidang kebencanaan telah menekankan betapa pentingnya keterlibatan masyarakat dalam sistem manajemen bencana terutama kepentingan kerjasama di kalangan penduduk lokal. Pendidikan umum juga merupakan cara yang utama dalam proses transfer kebijakan dan pengetahuan. Pendidikan umum  terkait dengan bencana disebut sebagai salah satu strategi utama yang memerlukan manajemen bencana. Program pendidikan bertujuan meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap isu-isu penting seperti kesehatan, lingkungan, dan lain-lain. masyarakat setempat harus menyadari dan ketersedian informasi tentang risiko bencana serta bagaimana mereka harus menyikapinya. masyarakat juga harus berbagi pengetahuan untuk membangun ketahanan mereka. Setiap kelompok masyarakat harus mengambil bagian dalam kampanye kesadaran dan dalam hal ini diperlukan pula keterlibatan media.

Modernisasi dalam menyediakan secangkir kopi dapat diumpamakan dengan modernisasi dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana. Pedekatan berbasis teknologi dalam membaca tanda-tanda bencana perlu dipelajari dan dipraktikkan agar semua lapisan masyarakat dapat memahami dengan secara terperinci terutama penduduk yang berada di kawasan rawan bencana. Zaman telah berubah, smong masih dapat berfungsi dan tetap perlu dipelajari. namun mengopi memiliki nilai efektif yang tinggi sebagai salah satu upaya kesiapsiagaan dalam menghadapi kemungkinan bencana pada masa yang akan datang. Berikut ini mEngoPI dengan baitbaitnya: