Selamat datang di website Buletin Smong.

Pembaca yang budiman, bencana gempa bumi dan tsunami yang hampir memasuki tahun ke 12 semestinya memperkuat pengetahuan dan kesadaran kita bahwa kita hidup di daerah dengan ancaman (hazard) bencana yang tinggi. Semuanya sepakat jika berdamai dengan bencana adalah pilihan yang tepat untuk menghadapi situasi tersebut.

Smong news Edisi kali ini hadir bertepatan dengan peringatan bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang jatuh pada bulan oktober serta dalam rangka World Tsunami Awareness Day 5 nopember lalu. Edisi ini mengedepankan beberapa konsep resiliensi (resilience) atau ketangguhan dalam perspektif bencana.

Semoga informasi pada Edisi kali ini dapat bermanfaat.

Belajar Tsunami dari Kawasan Indrapurwa di Aceh Besar

Lebih dari setengah garis pantai di Provinsi Aceh terdampak oleh tsunami yang terjadi pada tahun 2004 lalu. Beberapa lokasi bahkan memperlihatkan kemunduran garis pantai yang cukup masif akibat energi gelombang tsunami. Salah satu wilayah yang terdampak parah adalah kawasan pantai yang berada di sebelah timur Kecamatan Peukan Bada di Kabupaten Aceh Besar (Lihat gambar).  Kawasan pantai ini melingkupi beberapa gampong seperti Lamteh, Lambadeuk, Lampageu, hingga ke titik yang dikenal sebagai Ujong Pancu.  

Mengenal Sekilas Sistem Informasi Manajemen Risiko Bencana Berbasis Internet

Banyak dari kita yang baru menyadari bahwa sebagian besar wilayah di pesisir pantai Aceh rawan terhadap ancaman tsunami setelah melihat besarnya jumlah korban jiwa dan tingkat kerusakan yang terjadi akibat bencana tsunami pada 26 Desember 2004. Sebenarnya  bukan hanya gempa bumi dan tsunami yang  berpotensi menimbulkan bencana di Provinsi  Aceh.  TDMRC Unsyiah mengidentifikasi abrasi, angin ribut, banjir, epidemi, kekeringan, kebakaran hutan, gempa bumi, letusan gunung api, tanah longsor, dan tsunami tanah longsor sebagai 10 potensi bencana di Provinsi Aceh.  

Mengapa di Tanahku sering Terjadi Tanah Longsor?

Hampir setiap kali musim hujan datang, di Aceh selalu diwarnai dengan kejadian tanah longsor. mungkin terbesik di pikiran kita, mengapa bencana ini terus terjadi dan kadang kala bencana ini terjadi tidak hanya di musim hujan. Dalam artikel ini, penulis akan mencoba menjelaskan apa saja penyebab tanah longsor dan beberapa solusi yang bisa diterapkan untuk mengurangi bencana tanah longsor tersebut.

Tantangan Para Peneliti Ilmu Kebumian di Aceh Dalam Memaknai Paradigma Ketangguhan Menghadapi Bencana Alam

Awal november 2015, saya berkesempatan untuk menghadiri dan berpartisipasi pada konferensi pasifik mengenai rekayasa gempa (Pacific Conference on Earthquake Engineering) di Sydney, Australia. Dua ratus dua puluh makalah berkaitan dengan gempa bumi disajikan. Lebih dari 500 ahli dibidang gempabumi, rekayasa gempa dan ilmu-ilmu terkait lainnya hadir.

Patahan Seulimuem dan Potensi Bencana Gempa Bumi Aceh Besar

Sejarah gempa menunjukkan bahwa Patahan Seulimeum pernah menghasilkan gempa bumi dengan skala antara 7.1 sampai 7.3 pada tahun 1936. meskipun saat itu penentuan lokasi gempa masih belum cukup akurat karena kurangnya data namun melihat tingkat kerusakan yang lebih parah di daerah Krueng Raya, para peneliti berkesimpulan bahwa gempa tersebut diakibatkan oleh aktivitas Patahan Seulimeum.

Studi Komparatif Ritual Pasca-Bencana Aceh dan Tohoku

Tidak terasa telah satu tahun sejak saya melakukan riset di Banda Aceh. Saya mengucapkan rasa terimakasih yang mendalam kepada masyarakat yang menyambut dengan hangat dalam setiap aktifitas riset yang saya lakukan di lapangan. Saya mulai menemukan banyak hal, bukan saja sesuatu perbedaan yang tajam namun juga menemukan banyak persamaan atas pertanyaan bagaimana sesungguhnya masyarakat bersikap dan merespon kejadian tsunami di Aceh, Indonesia (2004) dan Tohoku, Jepang (2011).

Mendidik Dokter Agar Memahami Bencana

Indonesia merupakan gugusan pulau yang sangat rentan terhadap bencana, mengancam ratusan juta jiwa yang menghuninya.  namun, apakah para dokter yang bertugas di negeri ini memahami apa yang mesti dilakukan untuk mencegah dan menghadapi bencana?  Pertanyaan ini memicu para pendidik dokter masa depan untuk mereorientasi dunia pendidikan kedokteran Indonesia, khususnya di Aceh.   

Antara Mengopi dan Smong

Fenomena warung kopi memang tidak asing lagi bagi masyarakat Aceh. Warung-warung kopi ini tumbuh subur bagaikan cendawan selepas hujan reda. Hal ini muncul pasca-musibah bencana  tsunami 2004 yang hampir memasuki tahun ke-12. masyarakat Aceh mengopi dengan berbagai tujuan, bukan hanya untuk membasuh tenggorokan guna menghilangkan dahaga, tetapi mengopi juga urusan dunia dan akhirat.

Masyarakat Tangguh Bencana Melalui Pengetahuan Lokal

Upaya-upaya yang dilakukan dalam mewujudkan masyarakat tangguh bencana memasuki tren baru dengan semakin terintegrasinya dan lebih komprehensif pendekatan yang dilakukan. Kesadaran ini muncul sebagai upaya yang lebih sistimatis dalam memandang bencana sebagai bagian yang tidak dapat dihindari apalagi ditahan dengan segenap upaya struktural.

Pengetahuan Yang Menyelamatkan

Jika kita melihat kembali berbagai kejadian bencana yang pernah terjadi, banyak korban yang berjatuhan disebabkan tidak tersedianya pengetahuan tentang bencana tersebut. Sebut saja kejadian tsunami yang melanda tahun 2004 silam. Perbedaan yang cukup signifikan tampak dari jumlah korban meninggal antara kota Banda Aceh dengan kabupaten Simeulue. Di Banda Aceh, jumlah korban meninggalnya sebanyak 61.065 jiwa, sedangkan di Simeulue yang justru sangat dekat dengan pusat gempa, jumlah korban yang meninggal hanya 7 jiwa.