PERS RELEASE: Penyebab dan Rekomendasi Longsor di Km 27 Gle Pulut, Kecamatan Leupung, Kabupaten Aceh Besar

Longsor yang terjadi hari ini (12 Juni 2016) di km 27 Gle Pulut, Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar makin menyadarkan kita bahaya longsor bisa terjadi kapan saja. Longsor tersebut diperkirakan terjadi akibat pelapukan batu yang makin lama makin meningkat. Batuan yang membentuk lereng di Gle Pulut Km 27 merupakan batuan sedimen yang memiliki bidang kemiringan perlapisan batu searah dengan arah lereng. Bidang perlapisan yang searah dengan lereng ini memungkinkan terjadinya longsoran jenis translasi. Faktor geologi berupa joint (kekar), rekahan dan bedding (perlapisan) sangat berperan dalam membuat sebuah lereng menjadi tidak stabil.

Foto: aceh.tribunnews.com

Foto: aceh.tribunnews.com

Untuk mengantisipasi keberulangan kejadian di atas, perlu dilakukan upaya mitigasi yang sungguh-sungguh, yang diawali dengan investigasi struktur massa batuan pembentuk lereng secara detail. Investigasi ini untuk memastikan kondisi lereng tersebut, aman atau tidak. Investigasi struktur massa batuan merupakan survey geologi rekayasa untuk menilai kondisi sebuah lereng berdasarkan kenampakan struktur geologi, bidang diskontinuitas, bidang perlapisan, dan kekar. Dari hasil survey akan bisa diperkirakan jenis longsoran yang akan terjadi dan tingkat keamanan sebuah lereng.

Selain itu, pada 15 Juni 2012 lalu, Tim Geohazard UPT Mitigasi bencana, yang juga dikenal sebagai Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC), Universitas Syiah Kuala, telah mengidentifikasi lebih dari 75 potensi titik longsor sepanjang jalan Banda Aceh-Calang. Dari 75 titik tersebut, salah satunya berada di Km 27 ini. Untuk mengatasi  permasalahan tersebut, tim waktu itu pernah merekomendasikan sebagai berikut:

  1. Untuk kawasan lereng yang terbentuk dari tanah hasil pelapukan batuan perlu dilakukan pemasangan shorcrete (semen) dan soil nail (pakutanah) untuk mencegah masuknya air hujan yang bisa menyebabkan pembebanan lereng, peningkatan tekanan air pori (pore water pressure) dan terbentuknya bidang gelincir. Selain itu, perlu juga dilakukan pelandaian lereng (re-profiling) di beberapa lereng yang sangat terjal dan dewatering untuk menurunkan muka air tanah.
  2. Kawasan lereng batu yang memiliki tingkat rekahan (fracture) yang tinggi harus dipasangkan rock bolt (baut batu) untuk memperkokoh lereng dan menyatukan batuan supaya tidak mudah jatuh. Rockbolt ini juga bisa memperkuat gaya geser (shear strength) batu di sebuah lereng. Selain pemasangan rock bolt, pada beberapa lereng batu tersebut harus dilakukan rock removal atau menurunkan bongkahan-bongkahan batu yang diperkirakan akan jatuh di masa yang akan datang.

Demikian rilis ini dikeluarkan, semoga kebijakan pemerintah dan semua pihak terkait dalam membangun Aceh senantiasa mempertimbangkan unsur keselamatan dan prinsip-prinsip managemen bencana.

klik download

Kontak person untuk informasi lebih lanjut:

Ibnu Rusydy, M.Sc

Peneliti Geohazard UPT. Mitigasi Bencana Universitas Syiah Kuala (TDMRC) dan  Dosen Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala.