Penelitian tentang Population Data Development for Evacuation Simulation at Meuraxa Sub-Distric di Bawah Payung Kerjasama JICA-JST

Survei dilakukan dengan sensus yaitu mengambil data langsung door to door terhadap semua unit bangunan yang ada kecamatan meuraxa, bangunan yang disurvei meliputi; rumah, rumah toko dan mess. Berdasarkan hasil survei jumlah bangunan berpenghuni di kecamatan Meuraxa adalah 68.96% dan yang kosong sebesar 31.04%. Hasil sensus menunjukkan mayoritas penduduk yang berdomisili di kecamatan meuraxa adalah penduduk dengan umur lebih dari 12 tahun – 60 tahun.

Map of Meuraxa

Mayoritas kepala desa memberi dukungan dalam survei dan sekaligus memberikan masukan kependudukan bagi desa tersebut. Kerjasama dan keterbukaan masyarakat dalam memberikan informasi. Pengambilan data sensus lebih sukses diperoleh pada saat setelah waktu makan siang (kecuali hari libur), disebabkan penghuni rumah tangga banyak yang beraktivitas di luar rumah. Sehingga agar tidak terjadi 2 kali pendataan di satu lokasi, surveyor memilih waktu sore hari. Terdapat 2 desa (Gampong Baro dan Blang Oi) yang terkesan memproteksi survey, walau telah ada surat tugas dari Universitas dan surat keterangan dari Kecamatan Meuraxa. Disini tim survei membutuhkan waktu untuk pembuatan surat izin survei. Hal ini terjadi karena pada masa pasca bencana, banyak sekali survei yang dilakukan oleh lembaga lain dan tidak memiliki feedback bagi desa mereka. Asumsi masyarakat bahwa setiap kegiatan survei merupakan pendataan pemberian bantuan, sehingga tim tidak luput dari komplain yang diperuntukkan bagi lembaga lain.

Hasil sensus 16 Desa di kecamatan Meuraxa diperoleh data sebagai berikut:
Family ID: 4.343 (69.28%)
Building ID : 6,269 (100%)
Number of empty building : 1,926 unit
Number of population : 14,649 (100%)
Number of infant (0 – 3 aged): 1,459 (9.96%)
Number of Child (>3-12 aged): 2,135 (14.57%)
Young/adult (>12-60 aged): 10,755 (73.42%)
Number of Older (>60 aged): 277 (1.89%)

Berdasarkan pengamatan dan hasil wawancara pada saat sensus menunjukkan mayoritas penduduk pada kisaran umur dibawah 50 tahun. Kondisi ini disebabkan penduduk kecamatan Meuraxa banyak yang menjadi korban pada saat tsunami 26 Desember 2004. Keadaan bangunan yang tidak berpenghuni disebabkan oleh: (1) banyak penduduk yang belum kembali ke tanah desa mereka, mereka ada yang pindah keluar Banda aceh dan ada yang masih tinggal di daerah Banda Aceh tetapi jauh dari kemungkinan gelombang tsunami; (2) ahli waris yang belum dewasa saat ini tinggal bersama perwaliannya; (3) terdapat penduduk yang menjual bangunan mereka, dan pindah secara permanen ke kota lain di Aceh dan luar Acehdan (4) sebelum terjadi bencana, pada lokasi suatu tanah terdapat 1 unit bangunan (didiami lebih dari 1 keluarga), setelah adanya bantuan setiap keluarga memiliki 1 unit rumah sendiri.