Belajar dari Tsunami Aceh

Oleh: Hendra Syahputra

BAYANGAN mengerikan tsunami yang menerjang Aceh, Nias, dan Sumatera Utara masih tersisa meski bencana luar biasa itu sudah enam tahun berlalu. Kisah tutur dari musibah tsunami yang datang tiba-tiba pada Minggu pagi 26 Desember 2004 itu masih hidup di kalangan masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Aceh. Namun, pelajaran apa yang sudah diambil dari entakan tragedi yang sungguh menggemparkan itu?

Jauh sebelum gempa dan tsunami menghantam kawasan pesisir di Provinsi Aceh, masyarakat luas tak paham betul apa itu tsunami. Ketidakpahaman inilah yang membuat kita tidak siap menghadapi bencana tsunami. Akibatnya, seperti yang hampir masyarakat umum saksikan, dalam rekaman video amatir yang diambil salah seorang masyarakat Aceh saat kejadian tersebut, sebelum dan selama berlangsung tsunami, kepanikan menghinggapi masyarakat kita. Tak terlihat tanda-tanda untuk menyelamatkan diri. Padahal, gejala akan datangnya tsunami sudah tampak di depan mata. Mereka terlihat terpaku pada gempa tektonik yang menggoyang Aceh dan sekitarnya.

Mereka tidak salah, apalagi pada saat itu, memang tidak ada yang memandu atau menjelaskan apa yang sedang dan bakal terjadi. Semua mengalir begitu saja, maka ketika air laut menerjang, kita hampir tak bisa berlari melebihi kecepatan gelombang yang mematikan tersebut. Hanya sedikit yang bisa selamat dari amukan tsunami itu.

Setelah Enam tahun
Kelihatannya sebagian besar kita belum mampu secara maksimal menggunakan tragedi itu sebagai momentum penting untuk mengubah kesadaran, memperbaiki sikap, dan perilaku. Setelah berlangsung hiruk-pikuk beberapa saat, sikap dan perilaku kembali berjalan seperti biasa. Seolah-olah tidak ada hal luar biasa yang sudah terjadi. Begitu cepat lupa. Padahal, gempa dan tsunami di Aceh dan sekitarnya tergolong luar biasa, yang menghentakkan semua penduduk di Nanggroe Aceh, Kepulauan Nias, dan sebagian negara tetangga

Bencana itu tidak hanya meminta sekitar 200.000 korban jiwa. Kerugian harta benda pun tidak sedikit. Trauma yang ditimbulkan sangat mendalam. Segera kelihatan pula bagaimana kemampuan manajemen kita dalam menghadapi bencana tsunami di Aceh dan sekitarnya. Manajemen krisis sangat lemah bahkan kedodoran. Koordinasi dan efektivitas organisasi dalam mengatasi dampak bencana kurang bekerja optimal dan cenderung tertatih-tatih.

Harusnya, pengalaman pahit di Aceh dapat dijadikan bahan pelajaran penting dalam meningkatkan kemampuan mengelola krisis. Kenyataan ini benar-benar merisaukan, lebih-lebih kalau melihat posisi Indonesia yang sangat rawan terhadap pelbagai bencana alam. Indonesia tidak hanya berada di atas cincin api, tetapi juga memiliki banyak gunung api dan berada di atas daerah patahan Asia-Australia.

Hampir tak terelakkkan Indonesia akan terus-menerus berada di bawah ancaman gempa tektonik oleh pergeseran lempeng Asia-Australia. Juga terancam gempa vulkanik oleh kegiatan gunung api. Dengan memerhatikan ancaman itu, mau tidak mau perlu diperhatikan konstruksi bangunan yang tahan gempa, yang harus disosialisasikan. Tidak kalah pentingnya simulasi penyelamatan diri jika terjadi gempa yang umumnya datang tiba-tiba. Antisipasi sangat penting untuk mengurangi dampak bencana. Walau, sampai sekarang terkesan sangat minim upaya antisipasi. Kita bahkan merasakan miris, mendengar alat-alat peringatan dini tsunami dilaporkan kurang dirawat, bahkan sebagian besar hilang dari perairan Indonesia.

Mitigasi
26 Desember kemarin, peristiwa dahsyat itu, memang itu sudah enam tahun berlalu, tetapi ingatan terhadap bencana hebat itu masih kuat terpatri, melahirkan perasaan tercekam, haru, sekaligus juga kesadaran baru terhadap alam, khususnya alam Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Dunia.

Dalam perspektif keilmuan, pemahaman masyarakat luas terhadap masalah gempa semakin meningkat. Apresiasi terhadap ilmu kegempaan, geologi, dan seismologi juga meningkat. Pelampung detektor tsunami juga telah dipasang di sejumlah laut. Mitigasi (upaya untuk meminimalkan dampak bencana) pun, meski belum luas dan sering, sudah mulai dilakukan. Kini, ketika mengenang enam tahun gempa Aceh, kita diingatkan lagi akan kemungkinan terjadinya gempa besar di Tanah Air.

Di Aceh, kini tak hanya tersisa sekadar cerita sedih. Namun, menjelang peringatan enam tahun gempa dan tsunami Aceh akhir Desember ini, pelbagai informasi dan pengetahuan mengenai bencana alam, khususnya gempa dan tsunami, telah banyak disampaikan ke tengah masyarakat, seperti PIBA (Pusat Informasi dan Bencana Aceh), DIBA (Data dan Informasi Bencana Aceh), ATDR (Aceh Tsunami Digital Repository), serta DRMIS (Disaster Risk Management Information System), yang kesemuanya bisa dijadikan masyarakat dan pemangku kebijakan untuk menambah pemahaman pengetahuan tentang kebencanaan, juga membantu pemerintah daerah untuk mensosialisasikan pentingnya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di Aceh, bahkan di seluruh nusantara

Dengan tingkat pengetahuan dan kesadaran yang meningkat, masyarakat Indonesia semestinya dapat mempersiapkan diri lebih baik dalam menghadapi bencana alam yang datang sewaktu-waktu. Kalau dalam penanganan gempa kemarin masih diungkapkan kelemahan manajemen penanganan bencana, ini pun termasuk hal yang harus menjadi perhatian.

Selebihnya, kearifan yang diharapkan bisa terus dikembangkan adalah kemampuan beradaptasi hidup di kawasan bencana dan melakukan mitigasi atau berlatih untuk menghadapinya. Dalam berbagai kesempatan dikemukakan bahwa salah satu wujud adaptasi adalah mengkaji ulang bangunan, apakah konstruksinya sudah cukup memadai untuk menghadapi gempa. Selain bangunan, wujud adaptasi adalah memasang perlengkapan pemantau yang memadai. Mengingat Indonesia perlu banyak peralatan pemantau tsunami (mulai dari pelampung di laut, satelit pemancar ulang, hingga stasiun pemberi peringatan darat), di sini kita pun perlu membangun kemampuan sendiri.

Salah satu komitmen adaptasi lainnya, mestinya pemerintah terus memberikan beasiswa bagi orang muda yang terpanggil untuk mendalami ilmu geologi dan seismologi mengingat selama ini minat untuk mempelajari ilmu-ilmu ini masih terbatas dan jumlah ilmuwan ahli gempa juga masih sedikit.

Dengan sudut pandang ini, mengenang enam tahun gempa dan tsunami Aceh, disertai harapan Indonesia dalam kesiapan lebih baik manakala harus menghadapi bencana yang tak pernah diketahui kapan datangnya, apakah itu di pantai barat Sumatera atau di tempat lain. Dari sini pula akan tecermin, seberapa sungguh-sungguh kita menjadi bangsa terpelajar.